Showing posts with label Personal Post. Show all posts
Showing posts with label Personal Post. Show all posts
Feb 12, 2015
Jan 16, 2015
Sabtu sore di Petak Sembilan
Awal Januari 2015 ini saya berkesempatan berjalan-jalan di sekitaran Petak Sembilan, Jakarta Utara bersama Partner-in-Travel saya, Diyah.
Petak Sembilan adalah kawasan pecinan di Jakarta Utara, tepatnya berada di Kelurahan Grogol, kurang lebih 300 meter dari stasiun Jakarta Kota. Keluar dari stasiun, berjalanlah ke arah Selatan atau ke arah Glodok melalui pedestrian sebelah Kanan atau naik Trans Jakarta dan turun di Halte Glodok. Petak Sembilan merupakan kawasan pasar pecinan yang menjajakan banyak barang-barangdari Tiongkok dan puncaknya menjelang Imlek ini, para pedagang berlomba-lomba menjajakan beragam dekorasi Imlek, baju, bahkan makanan khasnya.
Turun dari stasiun Jakarta Kota, saya melangkahkan kaki ke Selatan menyusuri trotoar seberang Museum Mandiri dan berbelok di tikungan Hotel Fortuna kemudian belok kiri. Wangi nasi Hainan bercampur dengan bau 'anyir' dari selokan di pinggiran, tapi ga menyurutkan langkah saya untuk menyicipi kopi Tak Kie. Ya, kedai kopi Tak Kie, walaupun saya bukan peminum kopi, tidak menyurutkan niat saya menyicipi es kopi susunya yang terkenal.
Tags:
2015,
Culinary,
Indonesia,
Personal Post,
Travel
Sep 5, 2014
20 Random Facts About Me
"20 Facts About Me" is kinda interesting and I'm trying to re-create my own version as fun.
First, I saw this "20 Facts About Me" tag from a beauty-blogger down there in IG and recently I also saw it on Jane's post in which captivate my attention: "do we need to expose our self to public?" I mean, do people need to know about our self? However, this is kinda rhetorical question for me: "have you know yourself?" By getting to know of yourself, people will find it easier to getting a long with you. Like Indonesian proverb says: "Tak kenal maka tak sayang". Laugh.
However, I might assume it as "20 Random Facts About Me". It took me more than hour to find out about my random facts. What seems normal for spiders, is considered dangerous for fly. You've been warned.
1. Birthday: I am a typical Leo; born in 21st August. I'm fiercely independent but when I'm already at home or at least comfortable with my surrounding I can be spoiled, childish, and sensitive.
2. Love: I consider myself as a devoted person; been head-over-heel and fooled by one person for years! Ha! Now I'm trying to find someone who respects and loves me more than I do. A woman should be loved more.
3. Friendship: Tbh, I developed a Platonic relationship with my former house servant, Tar. My means, our relationship bonded into a sister-to-sister relationship just like G-Dragon to Taeyang has *laugh*; even though she worked at my home for 7,5 years as employee, I considered her as my older sister.
4. Pet: I love DOGS. and chicken. Once I had a Golden Retriever named Larry, but nowadays I only keep a turtle at home. Even though, most people were against my idea of raising a dog, I didn't give a d*mn.
5. Being told: Ah, another fact about me: I don't like being preached. I listen more to people who give me another insight instead of force me to follow their words. In the end, it is your choice how you want to spend the rest of your life.
6. Flower: I love all kinds of flowersss! I want to have a garden full of flowers but I'm not a green-thumb. Favorite flowers are Lotus and Rose.
7. Hate: I hate snake and most invertebrates. Not forget to mention cheaters & players.
8. Guys: A well-groomed man, smells good and has gorgeous smile definitely catch my attention. However, I will fall into a person who can make me laugh. Once Tar said I should find a Korean guy because they treat their gf like a princess;
9. Hobby: Loves anything related to Japanese Anime, Manga, Culture & Music. Travelling & reading are my fave hobbies. Japan, South Korea and Finland are my go-to-destination. Able to draw manga or anime. Loves to sing, period.
10. Music: Mika Nakashima is my muse, Shiina Ringo, Tokyo Jihen, DJ Kawasaki, Yoko Kanno, Perfume, FGMAN, Laruku, etc. J-Pop & J-Rock songs are mostly at my tunes. Lana del Rey.
11. Colors : Mint & Pink is my favorite colors. Black is my staple.
12. Cooking: I'm a great cook but I'm lazy to do so because I only live by myself. Unless somebody pay a visit then I will make some.
13. Childhood: I used to see some ghosts when I was a kid but nowadays I hardly recognize their existence. Thank God.
14. Accidents: I am a reckless person; as a kid and until now. I can't count how many times I had small accidents; once I drown in a deep pond, once I broke my left ankle, once I fell off and made me had a small operation scar on my right arm, and once I fell off and hit my back bone. Latest record: 13 cm Laparotomy scar with 14 stitches on.
15. Myopia: I used to have -5! I 'm a book worm; I read a lot! I wore glasses from class 7. Then, I had Lasik operation back in 2012 in which helps me to see clearly now :)
16. Food: I love food! I prefer noodle than rice. I like Indonesian, Japanese, Korean, Chinese and Finnish food. Anything. Nom nom.
17. Habit: I'm not a morning person, huhu. I'm a night owl. Furthermore, I have an obsessive need for cleanliness, I can't stand on dirty and messy place especially at my room. That's why I like to tidy up at the most irrelevant time of the day. Even when I got drunk.
18. Makeup: My precious: my makeup treasure. I love lipsticks and Japanese makeup products sooo much. I love to put make-up on, because I like to experiment with make-up and it's amazing how it can masquerade my emotion.
19. Nickname: Mia. It's my childhood and family's nickname. Yuan. Mbet. Mami. And most awkward Minul.
20. Future: I want to get married before 30~ Just simple and intimate wedding ceremony with pastel theme surrounded by our families and close friends. Furthermore, when I will have a daughter I will name her "Mika" from 美嘉; Mika = Excellent Beauty, taken from Mika Nakashima :)
Finally made it! It took me more than 2 hours to figure it all until my office room got black-out! Geez, it's not that easy to find out about yourself. I guess I should put more No. 21 as a talk-active person, lol.
Yuanita
September 2014
Aug 7, 2014
Memoar: Purwokerto 2014
"Write hard and clear about what hurts." - Ernest Hemingway
2007.
Namanya biasa dipanggil Tar, tubuhnya kecil tapi tinggi untuk ukuran orang di Desanya namun pikirannya seluas semesta. Setiap orang yang pernah mendengar cerita tentang Tar awalnya pasti berpikir tipikal gadis Desa lugu. Anda salah. Pola pikirannya seperti kaum urban yang selalu berpikir panjang dalam memutuskan sesuatu tetapi terkadang seperti anak kecil jika sudah berhadapan dengan Korean Wave atau Artis Korea. Karena pada dasarnya Dia, dan juga saya, hanyalah perempuan biasa.
Flashback ke 7,5 tahun yang lalu, awal tahun baru 2007, untuk pertama kalinya Dia dan saya bertemu.
Flashback ke 7,5 tahun yang lalu, awal tahun baru 2007, untuk pertama kalinya Dia dan saya bertemu.
"Mbak, kenalin. Saya Tar."
"Mia."
Singkat, padat, jelas. Saya bukan tipikal orang yang bisa langsung akrab dengan orang baru kecuali orang tersebut asertif lebih dulu, begitu pula dia. Kesan pertama yang Dia tangkap dari Saya pun hanya: "Jutek banget." Tante yang sangat berjasa memboyong dia ke Jakarta pun akhirnya berkata: "Buat dia betah, jangan digalakin, jangan sampe dia gak betah terus minta pulang lagi." Sebagai Sulung yang bertanggung jawab mengurus rumah dan urusan lainnya, akhirnya Saya mencoba memulai mengajaknya ngobrol. Dia 19, sedangkan saya 18. Kita masih sama-sama naif. Tapi karena mental dia sudah ditempa dari kecil dengan ikut bekerja di berbagai rumah orang, untuk beberapa hal dia jauh lebih dewasa dari umurnya.
"Mia."
Singkat, padat, jelas. Saya bukan tipikal orang yang bisa langsung akrab dengan orang baru kecuali orang tersebut asertif lebih dulu, begitu pula dia. Kesan pertama yang Dia tangkap dari Saya pun hanya: "Jutek banget." Tante yang sangat berjasa memboyong dia ke Jakarta pun akhirnya berkata: "Buat dia betah, jangan digalakin, jangan sampe dia gak betah terus minta pulang lagi." Sebagai Sulung yang bertanggung jawab mengurus rumah dan urusan lainnya, akhirnya Saya mencoba memulai mengajaknya ngobrol. Dia 19, sedangkan saya 18. Kita masih sama-sama naif. Tapi karena mental dia sudah ditempa dari kecil dengan ikut bekerja di berbagai rumah orang, untuk beberapa hal dia jauh lebih dewasa dari umurnya.
"Kenapa mau kerja disini?"
"Karena katanya rumah ini cuman ngurus rumah, anak 2 dan 1 ekor anjing. Saya gak mau ngurus anak kecil atau bayi lagi."
2014. 1,2,3 hingga 7 tahun pun berlanjut. Kita berdua sudah nyaman dengan keadaan yang saling menguntungkan kedua belah pihak: Saya beruntung karena ada yang mengurus rumah dan menunggu saya pulang, dia diuntungkan dengan uang dan allowance lain yang dia dapatkan. Padahal kenyataannya kita bertolak belakang 180°; dia suka Korea, saya suka Jepang; dia suka kopi, saya suka teh, bahkan hingga urusan Pria. Namun tidak disangka kita bisa cocok satu sama lain. Sampai suatu hari Dia berkata: "Bapak saya sakit, kena stroke ringan. Tapi sekarang sudah gak apa-apa."
Dia yang terlebih dahulu tersadar bahwa kita tidak bisa hidup seperti ini terus: sebagai Wanita kita harus membina rumah tangga. Pada intinya, kita berdua sepakat kita tidak mau menikah hanya karena terpatok usia atau karena diomongin orang, kita mau menikah karena kita mau, karena kita sudah menemukan orang yang dirasa tepat. Oleh karena itu kita berdua butuh waktu untuk menemukan orang tersebut. Namun, dia pernah berkata dia masih ingin dinikahkan dengan Bapaknya sebagai wali. Siap tidak siap, ada kenyataan yang akan kita hadapi. Dia meminta berhenti bekerja setelah lebaran, saya setuju.
Tidak semua orang tahu kehidupan orang sesungguhnya, namun segala sesuatu itu memiliki alasan kuat dan cerita dibaliknya. Kita hanya mencoba memilih yang terbaik untuk kebaikkan kita sendiri. Untuk saat ini, fokus mencari pendamping hidup masuk dalam skala prioritas. Dia pun berkata, andaikan beberapa bulan dari sekarang dia belum menemukan orang yang dirasa tepat dan tidak ada pemasukan, dia akan mencoba mengadu nasib menjadi TKI. Sesuatu hal yang dirasa cukup riskan tapi itulah pilihan terakhir agar jauh dari omongan orang yang sebenarnya tidak perlu ikut campur dalam urusan hidup orang.
Setelah Lebaran, saya berjanji akan mengembalikannya, istilah yang kurang tepat namun mencerminkan situasinya, ke orang tuanya. Dia mengadu nasib ke Jakarta dijemput oleh sanak saudara saya, maka Saya berjanji membawanya pulang untuk mengucapkan terima kasih langsung kepada orang tuanya karena sudah mengizinkan dia bekerja 7,5 tahun ini. Suatu janji yang harus Saya tepati.
Day 1.
Terkadang perjalanan mudik tidak seperti perjalanan di hari biasa. Mayoritas penumpang didominasi oleh keluarga dengan anak kecil atau keluarga besar. Single traveler seperti saya *hiks* lebih menikmati suasana perjalanan itu sendiri selama perjalanan. Banyak hal menarik yang saya coba lihat sisi yang menariknya. Purwokerto terletak di Provinsi Jawa Tengah, berada di bawah kaki gunung Slamet dengan temperature udara yang dingin sekali di waktu malam dan pagi. Rumahnya terletak di Karang Tengah, dibawah kaki gunung Slamet. Entah kenapa masyarakat disini suka sekali minum kopi hitam bahkan hingga membuat bubuk kopinya sendiri, kalo tidak 'by-request' yang ada kita akan disuguhi kopi setiap saat. Sedangkan Mendoan sudah bagaikan makanan sehari-hari atau cemilan wajib. Jangan heran kalo hampir setiap saat Mendoan hangat dan Kopi hitam sudah bagaikan duet maut pangan sehari-hari.
Masyarakatnya sendiri bagaikan typical orang Jawa: kekeluargaan yang terasa lengket. Sayangnya bahasa masih menjadi kendala; tidak semua orang tua lancar berbahasa Indonesia. Jika sering mendengar bahasa ngapak di guyonan TV, nah, kalian akan sering mendengarnya dikehidupan sehari-hari. Kalo kalian masih membayangkan kehidupan pedesaan yang masih sederhana, tebakan kalian sudah tepat. Di tempat saya menginap sekarang ini masih menggunakan tungku kayu, mengambil air saja masih menimba air sumur dan ke toilet saja harus ke empang/toilet umum. Menikmati setiap detik kehidupan adalah anugerah yang harus kita jalani dan syukuri selama saya masih bernafas.
Masyarakatnya sendiri bagaikan typical orang Jawa: kekeluargaan yang terasa lengket. Sayangnya bahasa masih menjadi kendala; tidak semua orang tua lancar berbahasa Indonesia. Jika sering mendengar bahasa ngapak di guyonan TV, nah, kalian akan sering mendengarnya dikehidupan sehari-hari. Kalo kalian masih membayangkan kehidupan pedesaan yang masih sederhana, tebakan kalian sudah tepat. Di tempat saya menginap sekarang ini masih menggunakan tungku kayu, mengambil air saja masih menimba air sumur dan ke toilet saja harus ke empang/toilet umum. Menikmati setiap detik kehidupan adalah anugerah yang harus kita jalani dan syukuri selama saya masih bernafas.
Day 2.
Misi utama harus terlaksana: mendapatkan tiket pulang ke Jakarta. Tiket kereta sudah habis hingga hari ke-8 bulan Agustus, bus Lorena pun menjadi pilihan. Setelah sukses mendapatkan tiket pulang, saya meminta Rosim, adik Tar mengantarkan ke Pasar untuk membelikan hadiah kecil untuk adik dan keponakan Tar. Entah kenapa setelah melihat langsung kondisi keluarga dan rumah Tar, tidak tega rasanya jika tidak membawakan sesuatu untuk isi rumah. Saya hanya berharap agar hadiah kecil ini bisa bermanfaat bagi keluarganya.
Menjelang sore, misi kedua segera dilaksanakan: mengunjungi Embah dan saudara dari pihak Nenek Ibu. Lucunya, pada perjalanan ke rumah Embah, entah sudah berapa banyak pria yang gatal berkomentar dan bahkan ada yang nekad sampai menghadang jalan kita meminta nomor handphone. Well, mungkin benar mereka seperti belum pernah melihat wanita sebelumnya. Wanita adalah species yang langka, atau bahkan mungkin mereka tidak pernah puas dengan satu pasangan. Wajar saja jika Tar sudah mengerti karakter mayoritas Pria di desanya.
Sebuah kenyataan pahit lain yang ada: kalo melihat dengan mata kepala sendiri akan mengerti bagaimana menyedihkannya kehidupan orang tua terutama di pedesaan. Dengan penyakit yang menggerogoti badan, bantuan anak cucu lah yang ditunggu-tunggu. 1 embah putri saya sudah buta, yang 1 sudah sulit berjalan, & 1 embah akung sudah tidak bisa melihat dengan jelas; miris. Sampai pada satu poin saya berpikir: saya tidak bisa membantu mereka semua namun saya akan membantu sebisa mungkin. Benar juga kata Tante yang mengatakan "Kalo sudah lihat sendiri akan tega-gak-tega."
Hal yang menyenangkan di Desa adalah semua terasa begitu lambat, apalagi jika kita menikmatinya. Bermain bersama anak kecil, atau jalan-jalan ke kaki gunung, atau main binatang pun lumrah saja. Saya menganggap ini liburan versi saya. Tidak memikirkan beragam hal yang lain, hanya menikmati setiap saat. Tar memiliki 2 keponakan bayi laki-laki bernama Fakih dan Restu, kerjaan saya tak lain hanya bermain-main dan nyiumin mereka berdua. Sedangkan 3 keponakan perempuan Tar yang sudah gadis mulai beranjak sadar kamera dan bersolek; Indri, Sunny dan Eno hanya berani main-main di dekat saya. Bertambah checklist to-do-list dalam kehidupan saya; "Menikmati kearifan lokal setempat" seperti kata sahabat pria saya.
Day 3.
Menjelang sore, misi kedua segera dilaksanakan: mengunjungi Embah dan saudara dari pihak Nenek Ibu. Lucunya, pada perjalanan ke rumah Embah, entah sudah berapa banyak pria yang gatal berkomentar dan bahkan ada yang nekad sampai menghadang jalan kita meminta nomor handphone. Well, mungkin benar mereka seperti belum pernah melihat wanita sebelumnya. Wanita adalah species yang langka, atau bahkan mungkin mereka tidak pernah puas dengan satu pasangan. Wajar saja jika Tar sudah mengerti karakter mayoritas Pria di desanya.
Sebuah kenyataan pahit lain yang ada: kalo melihat dengan mata kepala sendiri akan mengerti bagaimana menyedihkannya kehidupan orang tua terutama di pedesaan. Dengan penyakit yang menggerogoti badan, bantuan anak cucu lah yang ditunggu-tunggu. 1 embah putri saya sudah buta, yang 1 sudah sulit berjalan, & 1 embah akung sudah tidak bisa melihat dengan jelas; miris. Sampai pada satu poin saya berpikir: saya tidak bisa membantu mereka semua namun saya akan membantu sebisa mungkin. Benar juga kata Tante yang mengatakan "Kalo sudah lihat sendiri akan tega-gak-tega."
Hal yang menyenangkan di Desa adalah semua terasa begitu lambat, apalagi jika kita menikmatinya. Bermain bersama anak kecil, atau jalan-jalan ke kaki gunung, atau main binatang pun lumrah saja. Saya menganggap ini liburan versi saya. Tidak memikirkan beragam hal yang lain, hanya menikmati setiap saat. Tar memiliki 2 keponakan bayi laki-laki bernama Fakih dan Restu, kerjaan saya tak lain hanya bermain-main dan nyiumin mereka berdua. Sedangkan 3 keponakan perempuan Tar yang sudah gadis mulai beranjak sadar kamera dan bersolek; Indri, Sunny dan Eno hanya berani main-main di dekat saya. Bertambah checklist to-do-list dalam kehidupan saya; "Menikmati kearifan lokal setempat" seperti kata sahabat pria saya.
Day 3.
Desa itu seperti sudah memiliki alarm alaminya sendiri: suara lenguhan kambing dan petok ayam. Saya terbangun karena 2 hal itu ditambah bau tungku kayu Tar. Saya sudah bilang bahwa di Desa memiliki tungku sudah hal yang wajar, bahkan di tahun 2014 yang sudah modernisasi ini saja masih ada rumah yang menggunakan tanah sebagai lantainya. Itulah kenyataan hidup.
Tar rupanya sudah bangun dan belanja ke pasar, dia benar-benar tahu cara memanjakan seseorang; memasakkan masakan kesukaan saya. Saya merasa sangat bahagia apalagi jika bisa makan bersama keluarganya; karena tidak semua orang dapat merasakan kebahagiaan makan bersama keluarga. Saya sadar momen seperti ini tidak akan terulang lagi, maka saya memilih untuk menikmatinya saja. Setelah cukup mengisi energi, saya dan Tar bersiap-siap untk melaksanakan misi hari ini: mendaki Pancuran 7. Wisata alam yang saya gemari.
Di loka wisata Baturaden terdapat 2 sumber mata air panas belerang: Pancuran 7 dan Pancuran 3. Dua lokasi tersebut dinamakan berdasarkan jumlah pancuran atau sumber air panas belerang yang mengeluarkan air. Jarak menuju Pancuran 7 sekitar 2,5 km dari Baturaden dengan topografi yang *menghela nafas* turun naik lereng gunung. Udara dingin pun tidak membuat keringat saya berhenti mengucur. Lucunya, di perjalanan kami menemui seorang embah akung yang sudah renta namun masih kuat mendaki Pancuran 7 bersama keluarganya. Orang-orang pun berkata: "Mbah, makan opo toh mbah?" Saya yang banyak ngos-ngosan dan masih muda pun malu jadinya. Sebelum masuk Pancuran 7, kita harus membayar IDR 10.000/orang, bahkan dengan bujuk rayu manis Tar yang mengatakan Dia orang Karang Tengah pun tidak meluluhkan petugas loketnya. Mungkin Tar kurang latihan. Setibanya disana saya menemukan satu tempat yang cukup menarik: Petilasan Mbah Mata Angin. Masih pada lokasi yang sama juga terdapat Goa dan Tebing Selirang. Disana terdapat pertemuan air panas belerang dengan air panas dari mata air gunung Slamet. Tidak mau ketinggalan, saya pun mencoba sarana plus pijat Kaki oleh Juru Pijat Pancuran 7 dengan belerang asli gunung Slamet. Simplicity of Heaven on Earth.
Tar rupanya sudah bangun dan belanja ke pasar, dia benar-benar tahu cara memanjakan seseorang; memasakkan masakan kesukaan saya. Saya merasa sangat bahagia apalagi jika bisa makan bersama keluarganya; karena tidak semua orang dapat merasakan kebahagiaan makan bersama keluarga. Saya sadar momen seperti ini tidak akan terulang lagi, maka saya memilih untuk menikmatinya saja. Setelah cukup mengisi energi, saya dan Tar bersiap-siap untk melaksanakan misi hari ini: mendaki Pancuran 7. Wisata alam yang saya gemari.
Di loka wisata Baturaden terdapat 2 sumber mata air panas belerang: Pancuran 7 dan Pancuran 3. Dua lokasi tersebut dinamakan berdasarkan jumlah pancuran atau sumber air panas belerang yang mengeluarkan air. Jarak menuju Pancuran 7 sekitar 2,5 km dari Baturaden dengan topografi yang *menghela nafas* turun naik lereng gunung. Udara dingin pun tidak membuat keringat saya berhenti mengucur. Lucunya, di perjalanan kami menemui seorang embah akung yang sudah renta namun masih kuat mendaki Pancuran 7 bersama keluarganya. Orang-orang pun berkata: "Mbah, makan opo toh mbah?" Saya yang banyak ngos-ngosan dan masih muda pun malu jadinya. Sebelum masuk Pancuran 7, kita harus membayar IDR 10.000/orang, bahkan dengan bujuk rayu manis Tar yang mengatakan Dia orang Karang Tengah pun tidak meluluhkan petugas loketnya. Mungkin Tar kurang latihan. Setibanya disana saya menemukan satu tempat yang cukup menarik: Petilasan Mbah Mata Angin. Masih pada lokasi yang sama juga terdapat Goa dan Tebing Selirang. Disana terdapat pertemuan air panas belerang dengan air panas dari mata air gunung Slamet. Tidak mau ketinggalan, saya pun mencoba sarana plus pijat Kaki oleh Juru Pijat Pancuran 7 dengan belerang asli gunung Slamet. Simplicity of Heaven on Earth.
Hari yang dinanti sudah tiba; malam ini saya akan kembali ke Jakarta, kembali ke kenyataan hidup. Sedih rasanya tapi bagaimana pun juga saya dan juga Tar memiliki kehidupan kami masing-masing. Setelah cukup makan dan istirahat setelah mendaki Pancuran 7, saya berkemas. Tidak ada kata-kata yang spesial keluar dari mulut Tar; sangat tipikal Tar sekali. Kita hanya ngobrol dan bercanda seperti biasa. Saat sudah waktunya pulang, Ibu Tar hanya memeluk erat saya dan bicara dengan bahasa Jawa ngapak yang saya tidak mengerti. Tar hanya bilang: "Makasih sudah datang, jangan kapok main lagi." Akhirnya, saya pun pergi diantar Tar dan saudaranya. Setibanya di Terminal, entah mengapa bus menuju Jakarta masih belum datang juga. Setelah menunggu 4 jam hingga jam 10 malam dan tanpa kejelasan apa pun, saya memutuskan kembali ke rumah Tar. Ternyata, beginilah keadaan transportasi terutama bus dikala musim mudik; segala sesuatu serba tidak pasti.
Saya sudah hopeless dan bingung; bagaimana saya pulang ke Jakarta? Bersyukur masih ada saudara yang masih perhatian dan khawatir dengan kondisi saya saat itu; berkat bantuan Tante saya berhasil mendapatkan tiket kereta untuk keesokan harinya. Tanpa pikir panjang saya langsung bayar tiket tersebut dan kembali ke rumah Tar. Di perjalanan pulang itu, tak henti-hentinya Tante memberi petuah: "Bersyukur kamu; Tuhan masih sayang sama kamu. Disaat keadaan yang tidak pasti seperti musim mudik ini, kamu malah dapat tiket pulang yang lebih pasti dan nyaman. Kamu harus lebih banyak sedekah nanti." I guess I am.
Day 4.
Seharian ini dari pagi hingga sore, hujan terus mengguyur tak henti-henti. Entah kenapa mungkin alam memang memaksakan kehendaknya agar saya lebih banyak menghabiskan banyak waktu bersama Tar dan keluarganya. Kami hanya bersantai di rumah, memasak, ngobrol, becanda dan menikmati menit. Tidak ada yang dapat memaksakan kehendak alam; jam 8 malam hujan baru berhenti setelah seharian ini mengguyur kaki gunung Slamet. Saya bergegas pulang sambil pamit ke keluarganya, tampaknya saya sudah lumayan betah, berat rasanya harus kembali ke kenyataan hidup namun disisi lain saya juga harus berjuang meneruskan hidup. Setibanya di Stasiun, saya ajak Tar ke Cafe ber-wifi karena saya tahu hal inilah yang ia nanti-nantikan dari dulu; browsing ria mengecek info K-Pop. Krik.
Ketika kereta yang saya akan tumpangi tiba, saya malah lebih bersantai-santai. Hingga waktunya kepala stasiun mengumumkan perihal keberangkatan kereta dalam 5 menit berikut, saya masih berbenah. Saya memang merencanakan ini; saya langsung berlari menuju pintu masuk peron dan sebelum masuk saya tidak berkata banyak. Hanya bisa memeluk dia dan berkata: "Jaga diri kamu baik-baik yah Tar, salam untuk keluarga kamu di rumah nanti." Bodoh rasanya menjadi orang yang tidak mampu mengekspresikan perasaannya saat itu, tapi lidah sudah terasa kelu serta merta menahan tangisan yang sudah ingin pecah. Tapi saya rasa Tar pun berpikiran yang sama, lebih baik tidak usah mengekspresikan apa pun ketimbang akan kepikiran lagi setelahnya.
Tiba-tiba saya teringat sewaktu Larry meninggal; saat sahabat berbulu saya akan dikuburkan di halaman samping rumah, saya malah memilih untuk langsung berangkat kerja dan beraktifitas seperti biasa walaupun saya tahu yang saya lakukan adalah membohongi diri sendiri, berpura-pura kuat. Namun, saya rasa inilah yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk kebaikkan kedua belah pihak.
PULANG
Sesungguhnya saya tidak tahu "rumah" saya dimana? Apakah arti rumah itu sendiri? Apakah hanya sebatas bangunan? Atau lebih dari itu berupa suatu perasaan dimana saya bebas menjadi diri saya sendiri? Selama perjalanan pulang saya terus memikirkan hal itu hingga saya tidak bisa tidur. Ketimbang bengong dan flash-back mengingatkan hal-hal yang pernah terjadi selama 7,5 tahun saya bersama Tar, saya lebih memilih untuk menelaah arti hidup dan apa yang saya mau di kehidupan ini. Sangat sulit rasanya bersikap seperti biasa ketika kamu terbiasa menghabiskan waktu dengan orang yang mau mengerti dan memaklumi keegoisan dirimu sendiri. Namun, ketika kamu sayang (baca: peduli) kepada seseorang, maka kamu akan membiarkan dia memilih kebahagiaannya sendiri dan melihatnya bahagia. Saya rasa benar kata orang-orang: Home is where your heart is. Saya pernah merasakan itu sewaktu Tar masih di Depok, dan sekarang giliran saya untuk menemukan "Rumah" saya yang baru.
*update : Beberapa teman menanyakan, "Bagaimana mi setelah ditinggal Mami Tar? Lo baik-baik saja kan? Bla bla bla." I can't find a word. Like Haruki Murakami said; "The pain is inevitable. But the suffering is optional." I'm just trying to keep sane.
Yuanita
August 2014
Tags:
2014,
Personal Post
Aug 2, 2013
HELLO AUGUST! HELLO BIRTHDAY!
Hello August! Please be kind to Me :)
Well, I know it's a bit late to say Hello August, but somehow I have the urge to say it since birthday is days away~! Yay!
I don't have any specific wish on my (ehm) quarter century birthday. Anyway, I realize that at the moment I have the tendency to focus on my future: to meet life-mate, soul-mate. Funnily I just realize that it is such an exhausted DUTY! Yes, I write it right: duty.
Finding your soul-mate is not as easy as it seems. Everybody is unique. Frankly to say, I haven't find the 'right' person that suitably match my character, but like my previous boss said (hello, Kimtactor) "Always try, try, try and do your best."
All I ever met is the kind of 'troubled' or 'mismatched' person for me. I dunno, perhaps my type is always lead to a bad boy :/ but recently I realize "Go for someone whose not only proud and glad to have you, but will also take every risk and effort just to be with you." That's it. Well, I hope, my month will let me meet him :)
PHOTO SPAM
Apr 10, 2013
Yuan
I have undefined interest with Chinese culture.
Perhaps it was resulted from my late father habits who religiously watched every kung-fu movie (Judge Bao, The Condor Heroes, etc. You named it), had firm faith in Chinese philosophy, and had broad mind regarding chinese's art & culture appreciation.
Once I asked my mother about the meaning of my name; she said my father was the one who gave me the name, not both of my parents. The only thing I knew that my father named me "Yuanita" in terms of chinese word 'Yuan' 元 , okey. When I looked out in google, yuan could refer to: Bersinar damai (Shines peacefully); taman kerajaan (A royal park); or Yuan's dynasty. WOT?
Therefore, every time I go to a china town, historical site containing Chinese culture, or Chinese cultural event, the whimsical Chinese ambiance reminds me of my father. Least thing I know; he named me "Yuanita" so I will have prosperous life (like the Yuan Dynasty), having lady-like attitude (since Yuan commonly used as a female baby's name in China) and all the good things related to the term.
Funnily, even though I'm a hardcore Japanese culture geek aka Otaku, at glance, I also have interest with Chinese culture. I have an addiction with things related to Lotus flower: the common flower in Buddhism. When I visited Semarang on 2012, I went to this Pagoda named Avalokitesvara Watugong and bought a small sake's cup and a lotus candle. The lotus itself means the flower of wisdom while every time I see the cup, it reminds me of my father who once said this inspirational quote:
"Health is the greatest gift, contentment the greatest wealth, faithfulness the best relationship. " — Buddha
Tags:
2012,
Indonesia,
Personal Post,
Travel
Apr 9, 2013
I have no clue about what I want to do with my life...
This is post collection gathered from my Twitter posts, discussed my current situation facing the uncivilized world of Employment (in Indonesian) ;
Statement yang dikatakan lulusan Coxsackie-Athens High School (read here) *saya dapatkan dari postingan Inten di FB, Thanks* itu benar apa adanya, saya jadi takut dengan kehidupan...
Apa yang kita pelajari di sistem pendidikan formal, belum tentu 100% berguna dalam kehidupan bermasyarakat...
Ada faktor eksternal yang ternyata sangat berpengaruh...
Pernah suatu saat, saya didepak karena tidak mempunyai link dalam lingkup nirlaba tersebut...
Secara qualification; saya memenuhi semuanya. Tapi ketika ditanya "pernah pengalaman dgn orang X *gak berani nyebut negara*?"
Saat saya menjawab, "Tidak". Seketika itu penilaian saya sepertinya berkurang. Apakah hal trivial seperti itu suatu nilai mutlak?
Saya tidak mengerti. Mungkin saya tidak keterima karena faktor kualifikasi, atau ada pula karena gaji yang diminta. Namun mengapa semuanya menolak setelah proses lebih lanjut yaitu interview? Jika saya sudah dipanggil dalam proses interview, berarti secara general kualifikasi saya sudah memenuhi permintaan mereka (Perkataan tambahan saya)
Oleh karena itu, fokus saya (saat ini) adalah: bertahan hidup & 'sane', kalau tidak...sudah banyak jalan pintas yang ingin saya tempuh...
Maaf, ocehan saya ini hanya salah satu bentuk luapan rasa sesak yang bingung saya utarakan, namun baru sekarang mampu saya jabarkan...
Makanya mohon maaf kalau sekarang saya suka spamming foto/postingan blog saya hanya demi kepuasan batin saya agar tidak lagi tertekan...
Always try your best, God will do the rest!
Rejeki dan Jodoh itu tidak akan salah, sudah ditentukan oleh Tuhan! (Perkataan tambahan saya)
Ayo semangat! Ganbatte!!! :)
Mar 31, 2013
Bromo Trip #1 Post
Hello fellow traveler,
873.4 Km (approx) traveled from the hectic Capital city of Jakarta to the airy city in Eastern part of Java, Malang; 17 hours traveling duration using train (via Northern Coast) spent during this trip and a whole bundle of joy were accompanied along the road; felt like I'm just having a Limbo. Active volcano, frost temperature and breath-taking sunrise scenery at Bromo collided and made such an unforgettable memory for those who seeks for unbearable journey. As I've been trying to tell you forever, "I'm going to Bromo; before turns 25", and YES I DID! Finally, for the first time of my life, on March 28th 2013 Panji, Bayu, Rio, Nisa and me went to Mount Bromo during the Easter holiday...
![]() | |
| Nisa with our bulk of carriers :D (minus Panji's carrier) in Pasar Senen station |
![]() |
| Total luggages for 4-5 persons |
![]() |
| Scenery along the train road |
![]() |
| Finally, Malang! :'D |
![]() |
| We rented public minibus to Probolinggo bus Terminal |
![]() |
| Since we didn't have much time to air dry our towels, we made it inside the rented minibus! |
![]() |
| Our male friends having Friday's prayer at the Great Mosque of Kejayan; it turns out that most Mosques in East Java using Arabic language during the preach :D |
We decided to go to Bromo using Travel Package since the Tour Service belongs to friend of friend of mine *haish* and it's far more cheaper than common tour package available in greater Malang (nb: ours IDR 750.000,- Nett, including tranportation fee from JKT-MLG, SBY-JKT; excluding other transportation fees and meals). We departed from Jakarta by Majapahit Train (AC Economy) from Pasar Senen - Malang and followed by renting a public minibus to Probolinggo terminal since we have to meet with other tour's participants from Surabaya direction. Once we had hilarious moment for not knowing that many areas in Eastern Java are using Arabic language during preach session in Friday's prayer; therefore we unintentionally kept talking even though it's not allowed to do so.
After met with others at the meeting point, all participants were drove to Bromo through Pasuruan - Probolinggo and all the way to Ngadisari; the last village before Bromo's hiking trail. Going to Bromo was not as easy as I imagined before; first, many hikers are expert (in supply and preparation), while mine is more like amateur hiker; second, the low-temperature once made me hard to breath (especially in Penanjakan area); and third, cold temperature made me bloating all day & all night :( therefore better double-check your condition and belongings for low-temperature area.
Despite all the obstacles, I did really enjoy my trip to Bromo. FYI, the entrance fee to the Bromo Natural Conservation area is only IDR 6.500 for locals and IDR 25.000 for foreigners. (I know nothing for the differentiation, local government should be the one to be responsible and asked for.) Furthermore, vehicles from outer areas / guests vehicles should be parked near the entrance gate of Ngadisari and fellow guests can hire Jeep plus it's driver from the front gate entrance for around IDR 300.000 and up (depend on you bargain skill).
Meanwhile, for accommodation, hostels and local guest houses are available for lodging. However, if you want to stay near the crater rim, Cemoro Lawang is the best spot. The temperature ranges from 7-20 degree celcius, but during the dry season could reach below zero degree. Meals are not a big deal, many restaurants and small vendors sell various foods range from snack into heavy dinner. In worst case, if you forget to bring winter/cold equipment such as glove and shawl, street vendors will come to you and offer one. It ranges from IDR 5.000 - 15.000.- once again, depend on your bargain skill.
We started our summit attack at 3.30 AM but unluckily one of our Jeep couldn't reach our home stay because the road was blocked by others sunrise enthusiasts who were queuing for entering the Bromo conservatory area. Going Hiking in public holiday could waste your energy since many people are also have the same purpose like you, so make sure your tour guide execute the plan as earlier as possible to avoid queue. After quite some times, we drove in the middle of dawn through sand desert with few lightning; thrill is in our veins. Thank to our driver, Pak Yono, who expertise in driving towards Bromo's sunrise view point. At least, we made it through Penanjakan 1 or the highest view point for Summit Attack.
After satisfied with the Sunrise scenery in Penanjakan 1, we continued our journey to Kawah Bromo or Bromo's crater. The vehicles will drop you around the parking area, after that you can walk by or hire a horse to reach the bottom level of the stair. Have I told you the total number of the stairs is 250 stairs? Geez. The crowd made the area more like a market than a recreational spot. Therefore, we decided not to going up the stairs since we had to queue to reach the top of the crater. Lame. However, if you go Bromo someday, make sure you going up to the crater and see the activity of one of most active volcano in Indonesia.
Then our tour guide took us to Bukit Teletubbies or Teletubbies Hill; the name refers to the house of a famous children's cartoon. Nevertheless, I felt like I was in LOTR trilogy for being in such a beautifully contoured landscape. I'm in heaven. The hill was located behind the Bromo's crater and it's surrounded by Savannah. Next, we moved to Pasir Berbisik or Whispering sands; named after famous Indonesian movie which took a set in the sand desert located in the middle of crater's rim.
Before noon, we had to finish our journey and went back to our lodge because we had to catch train back to Jakarta via Surabaya. I couldn't sleep back then during the trip because I want to see the famous Lumpur Porong SIdoarjo which is a hot-mud lake caused from irresponsible drilling project from one of famous business venture *ehem*. When we first arrived at Surabaya, my first impression was "Surabaya is hotter than Tanjung Priok". After took a bath in the train station, I couldn't find myself felt fresher. The weather must be so god damn hot. Finally, another 15 hours train duration waits us to bring us back to reality.
For those who wandering the scenery in Bromo, please enjoy selected photos from our afternoon walk and Summit Attack to Bromo :)
After satisfied with the Sunrise scenery in Penanjakan 1, we continued our journey to Kawah Bromo or Bromo's crater. The vehicles will drop you around the parking area, after that you can walk by or hire a horse to reach the bottom level of the stair. Have I told you the total number of the stairs is 250 stairs? Geez. The crowd made the area more like a market than a recreational spot. Therefore, we decided not to going up the stairs since we had to queue to reach the top of the crater. Lame. However, if you go Bromo someday, make sure you going up to the crater and see the activity of one of most active volcano in Indonesia.
Then our tour guide took us to Bukit Teletubbies or Teletubbies Hill; the name refers to the house of a famous children's cartoon. Nevertheless, I felt like I was in LOTR trilogy for being in such a beautifully contoured landscape. I'm in heaven. The hill was located behind the Bromo's crater and it's surrounded by Savannah. Next, we moved to Pasir Berbisik or Whispering sands; named after famous Indonesian movie which took a set in the sand desert located in the middle of crater's rim.
Before noon, we had to finish our journey and went back to our lodge because we had to catch train back to Jakarta via Surabaya. I couldn't sleep back then during the trip because I want to see the famous Lumpur Porong SIdoarjo which is a hot-mud lake caused from irresponsible drilling project from one of famous business venture *ehem*. When we first arrived at Surabaya, my first impression was "Surabaya is hotter than Tanjung Priok". After took a bath in the train station, I couldn't find myself felt fresher. The weather must be so god damn hot. Finally, another 15 hours train duration waits us to bring us back to reality.
For those who wandering the scenery in Bromo, please enjoy selected photos from our afternoon walk and Summit Attack to Bromo :)
![]() |
| Mount Batok covered by mist around 5 PM |
![]() |
| Hello there! :D |
![]() |
| Nasi Goreng ala Bromo for Dinner |
![]() |
| 5.30 AM (Penanjakan 1) |
![]() |
| 5.30 AM (along Penanjakan 1 trail) |
![]() |
| 5.30 AM (Penanjakan 1) |
![]() |
| 5.30 AM (Penanjakan 1) The sun began to rise |
![]() |
| 6.00 AM (View of Mount Batok) |
![]() |
| 6.00 AM (Penanjakan 1) |
![]() |
| I left trail of my foot steps |
![]() |
| Trees & The Moon |
![]() |
| The fallen mist |
![]() |
| Backlight |
![]() |
| Persembahan |
![]() |
| Jeep park |
![]() |
| On the road through Bromo's crater |
![]() |
| 250 stairs towards Bromo's crater |
![]() |
| Beautiful scenery in Teletubbies Hill |
![]() |
| Pasir Berbisik (Whispering Sand) |
![]() |
| Edelweiss Bouquet |
![]() |
| Every step is not a single mistake :) |
Finally, I'm home at last.
We came back to Jakarta via Surabaya by Kertajaya (economy) train with a total of 15 Hours trip duration, 3 days 2 nights trip, and lack of sleep-mode that made me in an extreme-exhausted condition, caused: bloating, sun-burning, chapped lips and Panda-eye :"D
However, if you're domicile in Java island or at least you had watched '5 Cm' then hiking to Bromo is worth the trip. Make it into your wish-lists before you die; Mine would like to go to Bromo and see the Sunrise with my very own eyes *finally, another wish-list came true. Too bad that during our trip so many tourists were visited Bromo and made it more like a market. After all, my main purpose had finally accomplished: Summit-attack at Penanjakan Bromo.
However, if you're domicile in Java island or at least you had watched '5 Cm' then hiking to Bromo is worth the trip. Make it into your wish-lists before you die; Mine would like to go to Bromo and see the Sunrise with my very own eyes *finally, another wish-list came true. Too bad that during our trip so many tourists were visited Bromo and made it more like a market. After all, my main purpose had finally accomplished: Summit-attack at Penanjakan Bromo.
Here's the souvenir from my Bromo trip. Enjoy!
![]() |
| Train Tickets: The MAGIC ticket |
![]() |
| Bamboo Fan (for only IDR 2.000,- !!!) |
![]() |
| Edelweiss Bouquets |
![]() |
| My face before going to Bromo, aaand now it's getting tanner :"D |
note: All of the photos are not-Photoshoped due to the natural beauty of the scenery and object. Meanwhile, there's also interesting blog post written by Foreigner who travels to Bromo by bicycle. Kewl! Check him out: Pink Bike
Tags:
2013,
Indonesia,
Personal Post,
Travel
.jpg)






























































